Day 1: First Impressions of Singapore
![]() |
| See more on my Instagram. |
"Traveling. It leaves you speechless, then turns you into a storyteller." - Ibn BattutaSetelah saya mengetahui bahwa saya menjadi bagian dari workshop Southeast Asian Mobility for 21st Century Skills (SAM 21) yang akan dilaksanakan di Johor Bahru, Malaysia. Saya dan beberapa teman saya mencari berbagai info terkait Johor Bahru, akhirnya kita mendapatkan kesimpulan bahwa Johor Bahru lebih dekat dengan Singapura dibandingkan dengan Kuala Lumpur, Ibu kota Malaysia.
Jadi, saya dan 3 teman saya memutuskan untuk jalan-jalan ke
Singapura terlebih dahulu sebelum mengikuti workshop
di Johor Bahru. Sebenarnya ini adalah misi tahun 2016 yang belum benar-benar
terealisasi, ketika saya dan kedua orang teman saya pergi ke Malaysia dan tidak
ada waktu cukup untuk melanjutkan jalan-jalan ke Singapura mengingat jadwal
kuliah masih padat waktu itu. Haha. Akhirnya terealisasi tahun 2017, Alhamdulillah.
Hal pertama yang dilakukan adalah kita menyusun rencana
perjalanan kemudian meminta izin ke dosen bahwa kita mau jalan-jalan terlebih
dahulu. Setelah kita mengantungi izin, barulah kita mulai mencari tiket pesawat
dengan harga affordable. Kedua teman
saya berhasil mendapatkan harga tiket promo yang super murah.
Pada waktu itu saya sedang berada di luar rumah dan tidak
ingat nomor passport saya dan baru bisa sampai rumah jam 10 malam. Hanya beda
satu jam dengan kedua teman saya tersebut, saya sudah kehabisan tiket promo ke
Singapura. Sedih? Bangeet. Akhirnya saya memesan tiket dengan maskapai yang
berbeda dengan teman-teman saya tetapi dengan waktu penerbangan yang sama Jam
11.40 dari Soekarno-Hatta dan jam 14.20 tiba di bandara Changi, Singapura.
![]() |
| See more on my Instagram. |
Tiba pada hari H keberangkatan, saya sampai bandara Soekarno-Hatta
jam 9 pagi. Saya check in lalu ke imigrasi, semua dilakukan sendiri. Ada
kejadian yang menyenangkan dan menyedihkan pada saat menunggu penerbangan.
Kejadian menyenangkannya, saya beli buku baru di Periplus
bandara Soekarno Hatta sebagai teman selama perjalanan karena harus flight
sendiri, judulnya The Magic of Thinking Big karya David J. Schwartz, Ph.D. Akhirnya, buku
tersebut bisa dibeli juga setelah melihat salah satu insta stories blogger
favorite saya yang membaca buku tersebut. Bukunya bagus banget. Sampai saat ini
saya baru baca ¼ bagian, tapi yang mengantri untuk pinjam bukunya sudah panjang
banget, haha. Akan saya ulas bukunya di blog setelah saya selesai membacanya ya.
Kejadian lain yang menyenangkan adalah saya mendapatkan
pesan melalui direct message di
Instagram dari orang yang tidak saya duga, dia menanyakan saya mau kemana dan
lain sebagainya. Kenapa senang? Karena kita sudah temenan lama di Instagram dan
baru kali itu dia mengirimkan pesan ke saya. Dan ada satu kejadian lagi yang
membuat saya senang perihal direct
messsage yang berhasil membuat senyum di wajah saya seharian penuh, haha.
Kejadian sedihnya adalah salah satu teman saya ketinggalan
pesawat, karena jalanan macet banget. Akhirnya saya harus memendam cerita
bahagia saya, karena teman saya lagi terkena musibah:”). Long story short, dia
beli tiket penerbangan yang tidak jauh berbeda waktunya, sehingga kita bisa sama-sama
sampai di Changi hanya selang waktu 1.5 jam.
![]() |
| See more on my Instagram. |
Pertama kali ke Singapura, seneng banget. Karena baru
pertama kali mengunjungi negara tersebut. Hal pertama yang kita lakukan adalah menjama
sholat Zhuhur dan Ashar. Setelah itu, kita mencari keran air minum yang
disediakan di bandara karena berdasarkan hasil baca-baca dari berbagai website,
air mineral yang dijual disana mahal banget jika dibandingkan dengan Indonesia,
aduh ketauan iritnya deh:”).
Kita menuju ke stasiun MRT untuk pergi ke tempat penginapan
di daerah bugis. Nah, salah satu yang saya kagumi dari Singapura adalah transportasi
umumnya yang nyaman dan memudahkan banget untuk kita berpergian.
Setelah sampai di stasiun Bugis, saya dan satu orang teman
saya Anna mulai mencari lokasi tempat penginapan yang sudah saya pesan di
Indonesia hanya berbekal alamat saja tidak menggunakan map di handphone karena
kita tidak membeli sim card di
bandara Changi. Kita bertanya dari satu orang ke orang lain, sampai lupa udah
berapa orang yang kita tanya. Rata-rata memberikan jawaban “kemungkinan di sana”.
Kita menghabiskan waktu hanya untuk mecari tempat penginapan yang telah kita
pesan tersebut sambil geret-geret koper:”).
Akhirnya, setelah kita kesana kemari mencari alamat, kita
bertemu Ibu baik hati yang menunjukan arah yang benar ke tempat yang ingin kita
tuju. Yes! Akhirnyaa sampai juga di tempat persinggahan selama beberapa jam di
Singapura. Kita istirahat dulu di kamar kemudian makan sore menuju malam.
Hal yang paling menyenangkan adalah penginapan kami sangat
dekat dengan Masjid Sultan, yang merupakan masjid terbesar di Singapura. Jadi,
kita bisa sholat Maghrib dan Isya disana. Masjidnya besar dan wah. Saya merasa tenang
sekali ketika berada disana segala letih hasil dari pencarian alamat terbayar,
seperti dpencet tombol refresh.
Waktu menunjukkan pukul 20.30 waktu Singapura, kita
memutuskan untuk pergi ke Merlion Park. Sampai sana terlihat sekali bahwa
Singapura merupakan negara metropolitan. Di sekitar patung Merlion banyak
gedung-gedung tinggi dengan dihiasi lampu-lampu.
![]() |
| See more on my Instagram. |
![]() |
| See more on my Instagram. |
"Of all the books in the world, the best stories are found between the pages of a passport". -Unknown
-The end of day 1-







Comments
Post a Comment